Nenek Asal Cilacap Berjalan Kaki 30 KM untuk Ikuti Tradisi Bonokeling di Banyumas

para wanita mengikuti tradisi @Tribun
para wanita mengikuti tradisi @Tribun

BANYUMAS – Meskipun sudah berusia senja, Nenek Satiman masih kuat berjalan jauh sekira 30 kilometer dari desanya di Daun Lumbung, Kelurahan Tambakreja, Kacamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap.

Nenek Satiman berjalan kaki dalam rangka Perlon Unggahan trah Kasepuhan Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas pada Jumat (26/4/2019) esok.

Berangkat dari rumah pukul 04.00 pagi WIB, Nenek Satiman segera bergegas menyiapkan berbagai kebutuhan untuk perjalanannya.

Membawa air minum, mengenakan pakaian adat, dan jarit bermotif Banyumasan membuatnya terlihat berbeda di hari yang istimewa. Nenek yang saat ini sudah berusia 60 tahun masih terlihat kuat.

“Saya dari rumah berangkat jam 4 pagi. Sebab jalan kaki sampai 10 jam lamanya. Tapi setiap tahun ya seperti ini jadi terbiasa,” ujar Nenek Satiman kepada Tribunjateng.com, Kamis (25/4/2019).

Baca Juga :   Heboh Foto Caleg PKS, Menang Istri 2 Menjadi Nyata

Baginya mengikuti acara Perlon Unggahan tradisi Bonokeling adalah hal yang sudah harus dilakukan.

Meskipun jaraknya jauh, selama dia masih sehat dan kuat akan tetap mengikuti tradisi leluhurnya tersebut.

Para anak putu (anak cucu) trah Bonokeling yang saat ini bermukim di Cilacap rela jauh-jauh berjalan kaki untuk berziarah ke makam leluhurnya.

Para anak cucu Trah Bonokeling yang berjalan kaki dari Cilacap ke Banyumas membawa pikulan yang berisi hasil bumi.

Ada beras, sayur-sayuran, dan kebutuhan lainnya.

Setelah sampai di daerah perbatasan antara kedua wilayah tersebut, pikulan tersebut akan di berikan kepada trah atau anak cucu Bonokeling yang bermukim di Desa Pekuncen untuk diberikan secara estafet sebagai simbol menerima tamu.

Baca Juga :   Dalam Rangka HUT CILACAP ke-163, Festival Perahu Naga Digelar

Setelah sampai di Pekuncen, pada malam harinya sekira pukul 19.00 WIB akan ada jamuan makan malam buat tamu Bonokeling.

Pada malam harinya juga para tamu juga tidur di komplek pemakaman Bonokeling.

Ada sekira 3.000 orang lebih berkumpul mempersiapkan acara.

Mereka melakukan doa bersama dan puji-pujian menggunakan bahasa Jawa.

Acara yang paling dinanti adalah pagi harinya.

“Pagi harinya sekira pukul 06.00 WIB acara masak-masak besar dengan menyembeleih puluhan kambing. Inilah momen yang jangan sampai terlewatkan. Sebab pemandangan yang unik kesan tradisional dan klasik begitu terasa,” ujar Karno sebagai sesepuh adat bertindak sebagai penerima tamu.

Baca Juga :   Wapub Natuna Lakukan Kunker ke Kabupaten Cilacap

Cara memasaknya nanti juga unik, sebab tidak menggunakan perlengkapan modern tetapi menggunakan tungku alami seperti jaman dahulu.

Semua juru masaknya pun adalah laki-laki yang berpakaian adat.

Praktik religi komunitas adat Bonokeling memang bersifat khas dan berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. Komunitas ini mendapat sebutan komunitas Islam Kejawen, Islam Blangkon atau Islam Aboge. (Tribunjateng/jti)

Sumber: Tribun Jateng

No ratings yet.

Please rate this